6.10.2015

Menanti Kehadiran BPJS Syariah

Sejak tahun 2014, produk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) berupa BPJS Kesehatan telah menjadi topik diskusi masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan tenaga kesehatan. Pelaksanaan program BPJS Kesehatan menjadi sebuah kontroversi di mana sebagian masyarakat merasa bahwa program ini dapat menjadi solusi bagi masalah-masalah kesehatan di Indonesia, sementara sebagian yang lain berpendapat bahwa program ini memiliki banyak kekurangan.

Asuransi kesehatan memang telah menjadi kebutuhan masyarakat. Anggota masyarakat yang membutuhkan pertolongan dari fasilitas pelayanan kesehatan tidak perlu mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri, apalagi menjadi miskin. Dengan program asuransi kesehatan, pemegang polis asuransi seharusnya mendapatkan pelayanan dari fasilitas kesehatan secara gratis atau mendapat penggantian dari perusahaan asuransi, tentu tidak boleh lupa dengan kewajiban membayar premi asuransi setiap periode. Di negara-negara maju, cakupan asuransi kesehatan sudah lebih luas. Idealnya, asuransi kesehatan memenuhi aspek universal coverage. Aspek tersebut meliputi cakupan warga negara yang menjadi peserta, cakupan penyakit apa saja yang dapat ditanggung oleh perusahaan asuransi, serta cakupan biaya yang akan ditanggung atau diganti oleh perusahaan asuransi.

Sayangnya, produk-produk asuransi kesehatan syariah di Indonesia yang saya ketahui, belum dapat memenuhi kebutuhan kesehatan saya dan keluarga. Produk-produk tersebut tidak ada yang bersedia menanggung biaya pemeriksaan prenatal dan biaya persalinan. Perlindungan untuk rawat jalan dan rawat inap pun tidak mencakup semua penyakit. Selain itu, perusahaan asuransi telah menentukan biaya maksimal yang dapat diklaim untuk setiap tahun. Bahkan pada salah satu perusahaan asuransi syariah yang cukup terkenal di Indonesia, hal-hal tersebut semakin diperberat dengan pengajuan kepesertaan asuransi kesehatan yang harus dilakukan setiap tahun. Evaluasi yang dilakukan oleh pihak perusahaan asuransi mungkin dapat mencegah orang yang membutuhkan terapi dalam jangka waktu panjang atau membutuhkan terapi yang relatif mahal, menjadi peserta asuransi kesehatan di tahun berikutnya.

Hal ini berbeda dengan asuransi kesehatan yang dikelola oleh BPJS yang notabene adalah lembaga milik pemerintah. Pelayanan kesehatan yang dapat ditanggung oleh produk BPJS Kesehatan lebih luas, mencakup pelayanan kesehatan tingkat pertama maupun pelayanan kesehatan rujukan di tingkat lanjutan. Hingga tanggal 5 Juni 2015, peserta BPJS Kesehatan telah mencapai lebih dari 145 juta jiwa. Fasilitas kesehatan yang dapat melayani peserta BPJS Kesehatan pun telah mencapai jumlah belasan ribu.

Sekarang coba Anda bayangkan apabila BPJS menelurkan produk BPJS Syariah, yang mencakup BPJS Kesehatan Syariah. Produk BPJS Kesehatan yang sudah berjalan selama ini memiliki varian baru yang pendanaannya dikelola sesuai tata cara syariah Islam. Hal ini tentu menjadi produk keuangan syariah yang sangat seksi dan bermanfaat bagi umat muslim di Indonesia, selain bank syariah. Sebagai muslim yang tinggal di Indonesia, kehadiran produk tersebut sangat saya nantikan. Apabila produk ini dapat benar-benar terwujud, tentu akan semakin banyak orang yang akan berkata "Aku cinta keuangan syariah".

Thareq Barasabha
Pegiat Kesehatan Masyarakat

4.27.2015

Ide Hebat: Teleedukasi melalui SMS untuk Pencegahan Infeksi HIV


Latar Belakang
Penularan HIV telah menyebar di banyak negara, termasuk Indonesia. Jumlah total kasus AIDS yang ditemukan di Indonesia sejak tahun 1987 hingga Juni 2013 telah mencapai lebih dari 43.667 kasus, dengan 8.340 kasus kematian pengidap AIDS. Selain itu, terdapat pula 108.600 kasus infeksi HIV yang ditemukan dalam kurun waktu tersebut.

Angka-angka di atas tidak dapat mendeskripsikan secara lengkap mengenai penyebaran HIV sebenarnya yang terjadi di lapangan. Ada banyak pendapat yang mengatakan bahwa terjadi fenomena gunung es dalam pelaporan kasus HIV, di mana jumlah kasus yang sebenarnya jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah yang dilaporkan. Opini ini diperkuat oleh perjalanan penyakit akibat infeksi HIV dalam tubuh manusia yang membutuhkan waktu relatif lama. Infeksi HIV yang baru saja terjadi akan menunjukkan gejala-gejalanya setelah 2 – 15 tahun kemudian. Hal ini menyebabkan orang yang terinfeksi tidak dapat diketahui dari penampilan fisiknya, sehingga orang tersebut tidak berpikir untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan tentang infeksi HIV. Pasangan seks dari orang yang terinfeksi juga mungkin tidak mengetahui bahwa orang tersebut dapat menularkan HIV ke dalam tubuhnya. Keadaan ini akan semakin parah apabila masyarakat tidak mempunyai informasi yang cukup terkait HIV dan AIDS.

Di sisi lain, kurangnya informasi tentang HIV dan AIDS membuat masyarakat umum memiliki ketakutan yang berlebihan terhadap penularan virus ini, bahkan terhadap pengidapnya. Hal ini memunculkan stigma buruk terhadap pengidap HIV, sehingga tak jarang ditemukan kasus pengucilan atau diskriminasi terhadap orang dengan HIV dan AIDS (ODHA).

Menilik HIV dan AIDS sebagai salah satu masalah kesehatan dan sosial yang terjadi di Indonesia, saya menilai bahwa sistem telemedika dapat menjadi peluang usaha untuk penanggulangan masalah ini. Salah satu bentuk penerapan sistem telemedika yang dapat dilakukan yaitu promosi kesehatan dengan prinsip teleedukasi. Hal ini diharapkan membuat informasi dan pengetahuan tentang HIV dan AIDS dapat tersampaikan pada warga di berbagai penjuru negeri secara lebih cepat, mudah dan murah. Teleedukasi dapat menjadi suatu sistem komplementer dari program edukasi yang dilakukan oleh para tenaga kesehatan dan kader kesehatan di tiap daerah. Tokoh-tokoh masyarakat dapat menjadi mitra yang tepat untuk menyebarluaskan informasi terkait HIV dan AIDS pada warga di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Program ini tentu akan berjalan lebih mudah bila mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta.

Rencana Kegiatan
Ide ini direncanakan melibatkan 30 orang Warga Peduli AIDS (WPA). Masing-masing WPA diminta untuk memberikan daftar nomor ponsel 15 orang tokoh masyarakat di wilayah tempat tinggalnya masing-masing. Setiap hari kerja, selama satu bulan, dikirimkan satu SMS edukatif mengenai HIV dan AIDS ke 500 nomor ponsel (30 WPA, 450 tokoh masyarakat, 20 nomor pemangku kebijakan). SMS dipilih karena layanan penyampai pesan tipe ini telah populer dan dapat digunakan oleh masyarakat di Indonesia. Selain itu, tentunya tidak semua masyarakat di Indonesia memiliki ponsel cerdas yang dapat mengakses layanan penyampai pesan tipe lainnya. Melalui penggunaan SMS sebagai media teleedukasi, tokoh masyarakat dapat lebih mudah dan sering mendapatkan informasi terkait HIV dan AIDS, sehingga pihak-pihak tersebut dapat menyebarkan informasi yang diterimanya pada masyarakat. Diharapkan dengan bertambahnya pengetahuan masyarakat, laju penyebaran HIV di Indonesia dapat dihambat.

Masalah Ketidakcukupan Dana
Sayangnya, program ini belum dapat dijalankan karena tidak adanya dana yang mencukupi. Oleh karena itu, diperlukan pendanaan dari pihak sponsor atau penyediaan jasa SMS secara gratis oleh salah satu perusahaan penyedia layanan telekomunikasi. Program ini diharapkan dapat terus berlanjut secara berkesinambungan untuk mencapai target penerima informasi terkait HIV yang lebih luas. Bentuk program dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan atau sasaran pasar penyandang dana. Bahkan diharapkan pada program-program berikutnya, pesan yang disebarkan tidak hanya terbatas pada topik terkait infeksi HIV saja, tetapi juga tentang penyakit menular dan tidak menular lainnya, atau tentang topik kesehatan secara umum. Bentuk penyebaran pesan pun dapat dipilih melalui metode selain SMS, misalnya sosial media, layanan pesan gratis berbasis internet, maupun penyebaran video melalui internet. Demikian pula dengan sasaran penerima pesan, dapat disesuaikan dengan isi pesan yang disebarkan.

Peluang-Peluang Kerja Sama
Ide ini juga dapat dikembangkan menjadi suatu ide bisnis. Peluang kerja sama dalam bentuk sponsorship dapat dijalankan dengan pemerintah daerah, lembaga donor (baik dari luar maupun dalam negeri), perusahaan telekomunikasi, perusahaan produsen alat atau bahan biomedis, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan, dan lain sebagainya. Pihak sponsor dapat menuliskan nama perusahaan atau nama produknya pada pesan yang akan disebar. Selain itu, nama pihak sponsor juga akan disertakan dalam sosialisasi, diseminasi serta publikasi program, baik itu di media massa maupun di konferensi ilmiah yang terkait dengan program ini. Hal ini akan menguntungkan bagi pihak sponsor karena nama perusahaan atau nama produknya akan semakin dikenal oleh masyarakat.

6.01.2011

A-Z Kehidupan Mahasiswa P3D

Absen. Sesuatu yang akan membuat anda harus berangkat pagi-pagi.
Bohong. Sering muncul godaan untuk melakukannya, jangan dibiasakan, jangan seperti saya.
Cinlok. Sudahlah, jangan disangkal, evidence-based kok!
Dokter muda. Eufemisme belaka.
Emosi. Kadang meluap ke permukaan, bisakah anda mengendalikannya?
Follow up. Sesuatu yang akan membuat anda harus berangkat lebih awal.
Gombal. Skill ini kadang sedikit bermanfaat....
Hikmah. Bisa didapatkan selama P3D, ambillah kalau menemukannya!
Istirahat. Pukul 12.00-13.00, pada kenyataan: kalau bisa sebelum pukul 12.00-ditelepon teman.
Jaga. Memunculkan keinginan mempercepat laju waktu.
Koas. Maaf, saya telah menuliskan kata yang takpantas ini, tapi inilah anda.
Lulus. Tidak selalu berarti anda telah kompeten menguasai ilmunya.
Mesko. Tempat favorit mahasiswa P3D saat jaga.
Nasib. P3D bisa melatih anda untuk belajar menerimanya.
Oncall. Rasakan sensasi ketegangannya!
Pasien. Sumber ilmu, tapi saya sering lupa kalau dia manusia.
Question. Disuruh bertanya bingung, ditanya apalagi.
Residen. Bermacam-macam karakter, hindari yang tidak perlu dikenal.
Status. Membuatnya tidak semudah membuat status facebook.
Tidur. Bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, sambil berdiri sekalipun.
Usaha. Meningkat di waktu-waktu menjelang ujian.
Vuvuzela. Suaranya masih lebih merdu dibanding omelan yang diterima.
Waktu luang. Barang yang cukup langka selama P3D.
X. Daripada menonton film jenis ini, lebih baik manfaatkan waktu anda untuk tidur.
Yes man. Tepat untuk menggambarkan anda selama dua tahun ke depan.
Zombie. Kita lihat penampilan anda sehabis jaga bedah, seperti inikah?

5.29.2011

Berinvestasi dan Menjemput Jodoh

Setelah membaca status Facebook seorang teman, saya terinspirasi. Sepertinya ada kesamaan antara cara-cara orang berinvestasi dengan cara-cara orang dalam menjemput jodoh. Beberapa di antaranya yaitu:

Saham
Prinsipnya: ambil yang harganya akan naik, lepas yang harganya akan turun. Jadi terus saja berganti-ganti. Ada yang lebih menguntungkan, saham yang lama dilepas saja. Ada yang lebih menguntungkan lagi, lepas lagi saham yang baru dimiliki.

Properti
Memilih satu properti yang menurutnya paling baik, lalu berusaha keras untuk mendapatkan properti tersebut. Modal yang banyak difokuskan untuk mendapatkan properti tersebut. Harus sangat bersabar, karena perlu bertahun-tahun untuk memetik hasilnya.

UMKM
Menyebar modalnya dalam intensitas kecil ke beberapa bisnis yang tampak menguntungkan. Walaupun sudah bisa memperkirakan tidak semua bisnis tersebut akan sukses, setidaknya ada satu yang paling berkembang. Nah, satu bisnis itulah nanti yang akan dikelola secara serius.

Deposito
Tidak mau ambil pusing. Cukup simpan saja modalnya di tempat yang terpercaya. Tetap sabar menunggu waktu yang ditentukan untuk dapat mengambil keuntungan.

Logam mulia
Langsung bertindak, karena yakin pasti menguntungkan untuk jangka waktu yang panjang. Walaupun modal seadanya, takjadi penghalang untuk bergerak. Kelompok ini langsung mencari emas, mendapatkannya, dan menyimpannya baik-baik.

Lalu apa hubungannya dengan urusan jodoh? Silakan tafsirkan sendiri. Lalu kabari saya: anda termasuk kelompok yang mana?

7.28.2010

Otakku Berpoligami

Selama masa puber, otakku sangat sering berinteraksi dengan benda bernama komputer. Hal ini membuat otakku jatuh cinta dan sempat berniat menikahi teknik informatika. Namun takdir berkata lain. Selepas SMU, otakku malah menikahi ilmu kedokteran. Otakku masih terlalu muda waktu itu. Gampang terpengaruh. Apalagi keluargaku hobi sekali menjodoh-jodohkan otakku dengan kedokteran. Tak masalah. Toh nanti selama kuliah, otakku tetap bisa berselingkuh dengan ilmu komputer.

Rupanya yang terjadi tidak seperti itu. Aku baru bisa memiliki seperangkat komputer di tahun kedua, itupun komputer berkualitas rendah yang ketinggalan zaman. Sepertinya cinta otakku ini pupus. Walaupun masih sedikit tertarik dengan opensource, tapi otakku sudah terlalu jauh tertinggal dari perkembangan cintanya itu. Lebih dari itu, otakku tidak begitu mencintai pasangan pertamanya. Tapi rasanya tak mungkin diceraikan. Pasangan pertama otakku ini kesayangan kedua orangtuaku. Hal ini membuat otakku sedikit labil. Game dan friendster pun menjadi pelampiasan hawa nafsunya hampir di setiap malam.

Sebenarnya otakku punya cinta yang lain, yaitu jurnalistik. Tapi cinta itu dipendam saja olehnya. Hanya sekali-sekali diperlihatkan di media intern kampus. Belum ada tanda-tanda akan menuju ke hubungan yang lebih serius. Sampai akhirnya di tahun ketiga perkuliahan, eksperimen otakku merangkai kata untuk media massa menuai hasil. Otakku pun menikahi jurnalistik sejak hari itu, hari ketika kisah poligami otakku dimulai.

Kisah poligami otakku berlanjut tak lama setelah itu. Kebahagiaan mendapatkan uang dari hasil usaha sendiri akhirnya mendorong otakku jadi jatuh hati pada kewirausahaan. Setelah direstui orang tua, otakku pun menikah lagi untuk ketiga kalinya. Dan otakku hidup bahagia dengan ketiga pasangannya. Tapi ceritanya belum berakhir sampai di sini.

Ternyata saudara tiri dari jurnalistik, yang bernama sastra, tak kalah menarik! Lebih menarik bahkan! Otakku jatuh cinta lagi, dan menikah lagi. Otakku kini berpoligami dengan empat pasangan. Kedokteran, jurnalistik, kewirausahaan, dan sastra. Pasangan kedua, ketiga, dan keempat inilah yang membuat hidup otakku tidak membosankan.

Walaupun berpoligami, tapi otakku tak menikah siri. Pasangan-pasangan otakku tidak dirahasiakan keberadaannya dari otak-otak yang lain. Pasangan-pasangan otakku ini juga bisa saling menopang satu sama lain. Ada satu masalah tapi, otakku tak cukup adil. Contohnya dulu, waktu malam menjelang ujian Ilmu Kesehatan Anak. Otakku tak mau mencumbui buku Panduan Diagnosis dan Terapi. Justru buku The Power of Kepepet yang dikencaninya. Atau seperti sekarang ini. Laporan IKM menunggu untuk disentuh, tapi otakku malah asyik masyuk dengan esai ini.

7.26.2010

Sales Promotion Girl yang Menarik

Anda pasti tahu atau pernah melihat Sales Promotion Girl kan? Apalagi kalau anda sering mengunjungi mal, pasti tidak merasa aneh lagi melihat makhluk tersebut. Biasanya terdiri dari beberapa orang wanita yang berdandan sangat wah (walaupun tidak semuanya dapat saya katakan cantik), berdiri di dekat suatu produk, di tangannya terdapat tumpukan brosur berisikan propaganda betapa hebatnya produk tersebut. Salah seorang wanita tersebut akan mendekati saya, kalau dia merasa saya ini cukup mampu dan tertarik untuk membeli produknya, lalu memberikan selembar brosur tersebut. Seringkali saya hanya mengucapkan frase terima kasih sambil mengambil selembar brosur yang diberikannya, tanpa tertarik dengan produk maupun Sales Promotion Girl-nya.

Tidak semua orang akan didekati oleh Sales Promotion Girl. Mereka tipe wanita pemilih. Itu tergantung pada bagaimana gaya anda saat berjalan di mal. Seingat saya, tidak ada Sales Promotion Girl dari dealer mobil yang pernah mendekati saya. Sebentar, jangan salah! Bukannya saya tidak menarik. Buktinya saya sangat sering didekati oleh Sales Promotion Girl dari berbagai restoran. Cukup hebat juga mereka bisa menebak kegemaran saya terhadap kuliner, padahal mereka belum pernah mengenal saya sama sekali. Okelah. Itu sekilas saja pandangan saya tentang Sales Promotion Girl. Sore itu, saya menemukan seorang Sales Promotion Girl yang sangat menarik! Dan saya bukan menemukannya di mal, tapi di RS Hasan Sadikin. Ya, memang sedikit aneh.

Hujan sedikit lebat saat mentari tergelincir ke barat. Saya baru saja selesai menempelkan jempol pada pemindai sidik jari, membuktikan bahwa saya mengakhiri jam kerja saya sore ini. Saya bersama Yogi bergerak menuju masjid Asy-Syifaa', tujuannya hendak membaca Republika hari ini dan Majalah Tarbawi edisi terbaru. Bangunan masjid yang terpisah dari gedung rumah sakit membuat saya harus melewati beberapa lapis tirai hujan. Di pintu Asy-Syifaa', seseorang menyapa saya dengan ramah dan ceria. Sales Promotion Girl itu. Saya takmemperhatikan dia. Mungkin karena dia tidak berdandan seperti Sales Promotion Girl di mal pada umumnya.

“Payung, A?” kira-kira seperti itu dia menawarkan payung. Padahal saya baru mau masuk ke dalam masjid.
“Nanti pulangnya ya...?” sapanya sok akrab. Tampaknya dia baru menyadari bahwa saya sudah sampai di masjid dan tidak membutuhkan payung.
“Seribu lima ratus,” dia menyebutkan tarif ojek payung. Saya terus masuk. Tidak membalas satupun tawarannya.

Anda jangan mengira Sales Promotion Girl ini wanita dewasa seperti yang anda temukan di mal-mal. Saya sedang bercerita tentang seorang gadis kecil. Gadis kecil ini rupanya semacam Sales Promotion Girl-nya anak-anak tukang ojek payung. Ini sangat menarik. Saya memperhatikan dari balik jendela sekretariat DKM Asy-Syifaa'. Dua orang anak lelaki masih menunggu dengan payung lebarnya. Sementara si gadis kecil itu, tanpa memegang payung sama sekali, menemani mereka. Mungkin terus menyapa ramah orang-orang yang keluar dari masjid sambil menawarkan jasa ojek payung tersebut. Saya melihat sebuah pembagian tugas yang kreatif. Dua orang anak laki-laki sebagai pekerja dan satu orang anak perempuan menjadi Sales Promotion Girl-nya. Ternyata kreatifitas anak-anak tak bisa dianggap remeh. Mereka bisa sekreatif itu untuk memperoleh uang. Lebih hebat dari saya yang masih saja meminta-minta.

3.22.2010

Kemenangan Lugas

Kemenangan ini kemenangan lugas

Kami tarik tambang itu hingga tangan kami kebas
Kami getarkan gawang futsal dengan tendangan yang keras
Kami berjuang di cabang bulutangkis hingga kami lemas
Kami buat masakan yang lezat dan pedas
Kami debat lawan-lawan kami hingga mereka tak mampu lagi membalas
Di cabang tenis meja, kami panen mendali emas

Semula kami memang cemas
Tapi sejak Jatinangor Idol dimenangkan Lucas
Kemenangan ini semakin tampak jelas
Kemenangan ini tidak hanya di atas kertas

Kami kumpulkan emas demi emas
Cabang demi cabang kami terabas
Dan kami pun semakin trengginas

Kini di atas pentas
Tentunya kami sangat puas
Karena kemenangan ini benar-benar hasil kerja keras
Bukan hasil culas
Ataupun bermalas-malas

Panitia tahun depan punya tambahan tugas
Mengambil piala ini di mess coass!

Jatinangor, 28 April 2007 (Malam Kemenangan)

Menantang Para Musisi

Saya tahu sudah banyak orang yang membicarakan hal ini: anak-anak zaman sekarang tak lagi punya lagu. Keadaan ini memaksa mereka untuk menghapal lagu-lagu orang dewasa, tentunya tanpa daya saring. Walaupun mereka tak paham dengan maksud dari lagu tersebut atau bahkan arti kata-katanya, mereka tetap akan menghapal dan menyanyikannya. Okelah kalau lagu-lagu orang dewasa yang mereka hapal itu lagu-lagu yang liriknya baik. Mungkin kita masih bisa mentolerirnya. Namun apabila lagu yang dihapal adalah lagu-lagu yang bercerita tentang kesia-siaan, pesimisme, perselingkuhan?

Contoh paling dekat saya temukan pada sepupu saya yang usianya belum mencapai angka lima. Sudah bisa menghapal lagu Matta Band yang memang sempat populer beberapa tahun yang lalu. Temanya: kekasih yang menjalin cinta (lagi) dengan sahabat. Saya rasa ini tidak bisa disebut sebagai sebuah prestasi.

Itu belum seberapa. Saya sedang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan rendah ketika saya melihat seorang anak laki-laki berjalan di pinggir jalan. Dengan santai ia bernyanyi “Serong kanaaan...! Serong kiri...!”, potongan lirik dari lagu The Changcuters. Saya tak yakin anak itu tahu arti kata “serong”. Saya ingin tertawa mendengarnya. Menertawakan sesuatu yang sebenarnya tragedi, bukan komedi.

Setahu saya, Ruben Onsu pernah mempopulerkan lagu anak-anak berjudul “Jangan Gila Dong”. Band Naif juga telah membuat terobosan dengan mengubah nama band mereka menjadi BonBinBand (Kebon Binatang Band) lalu membuat album anak-anak. Sayangnya lagu-lagu ini mungkin tereliminasi oleh permintaan pasar sehingga tidak sepopuler lagu-lagu dewasa lainnya.

Oleh karena itulah -dan karena saya tidak bisa bermusik- saya menantang para musisi untuk membuat suatu karya hebat, bermanfaat, dan tentunya laku di pasaran, yang didedikasikan untuk anak-anak Indonesia.

3.18.2010

Salah Satu Sisi Lingkaran

Bergabung dengan Forum Lingkar Pena Bandung sepertinya memberikan kemajuan besar dalam hidup saya. Saya masih ingat bagaimana awal mula saya bergabung. Waktu itu saya sedang libur, bersantai-santai di rumah sambil mengakses internet. Satu email masuk ke inbox saya dari milist FLP, mengabarkan bahwa FLP Bandung menerima anggota baru. Sudah lama saya mengikuti milist-nya, tetapi tidak pernah bergabung dalam organisasinya. Saya pun membalas email itu dengan biodata singkat. Email saya itu langsung dibalas oleh Jaka Arya Pradana, sang pengirim email penerimaan anggota baru. Katanya langsung saja datang ke Dekranasda Hari Kamis ini. Tapi saya sudah punya rencana akan berlibur ke Semarang. Kalau begitu, datang di pertemuan Kamis minggu depan di Masjid Salman saja, saran Jaka.

Sore itu pun saya berangkat langsung dari RS Hasan Sadikin, tempat saya magang. Saya cukup excited, akan menemukan apa di Masjid Salman nanti. Setelah datang dan shalat Ashar saya mencari Forum Lingkar Pena. Semula saya berpikir akan mudah menemukannya, cukup mencari sekumpulan orang di selasar masjid, pasti yang itu. Ternyata tak mudah. Sangat jarang saya singgah di Masjid Salman. Baru kali ini saya melihat masjid yang begitu ramai dengan aktivitas, padahal bukan Hari Jumat. Banyak sekali kumpulan-kumpulan orang yang duduk membentuk lingkaran di selasar masjid. Membuat saya semakin bingung menemukan mana di antara lingkaran-lingkaran manusia ini yang merupakan Forum Lingkar Pena. Saya menelepon Jaka lagi, katanya dia masih dalam perjalanan. Saya menunggu saja di selasar Masjid Salman sambil membaca buku. Sampai saya menemukan lingkaran baru yang terbentuk di halaman dekat menara Masjid Salman, saya telepon Jaka lagi untuk mengkonfirmasi. Ternyata benar. Saya pun bergabung dengan lingkaran itu, menjadi pendatang baru. Saat itu saya duduk tepat di samping Bapak Irfan Hidayatullah, seorang penulis yang sudah tak asing lagi namanya. Selain itu saya juga bertemu dengan penulis-penulis muda seperti Dedi Setiawan, Sri Al Hidayati, dan yang paling humoris di lingkaran itu, Adew Habtsa. Hari itu materinya tentang puisi.

Pada pertemuan ketiga (kalau tidak salah, saya agak lupa-pen.), saya nekat membawa esai saya yang berjudul “Lokalisasi Setengah Hati”. Saya senang memperlihatkan karya saya kepada orang lain. Buat apa hanya menyimpannya menjadi konsumsi pribadi saja. Kalau karya saya ternyata menarik, tentunya akan diapresiasi. Kalaupun tidak menarik, saya akan mendapatkan koreksi. Tetap untung, tidak ada ruginya. Alhamdulillah. Esai saya itu dianggap sudah enak dibaca. Saya pun jadi semakin percaya diri untuk terus berkarya.

Dulu saya pernah berpikir seperti ini, tak perlulah seorang penulis bergabung dengan kelompok-kelompok sastra. Bukankah secara independen pun bisa. Tinggal menulis lalu mempublikasikannya. Tapi semangat menulis perlu dipelihara. Sebagai seorang mahasiswa di Fakultas Kedokteran, di mana hobi menulis jarang diekspos dan dikembangkan, memelihara semangat menulis itu tak mudah. Berbeda jika kita selalu bertemu dengan orang-orang dengan hobi yang sama, dengan frekuensi yang cukup sering. Ditambah lagi dengan rasa iri yang positif ketika mengetahui tulisan teman kita dimuat di media massa atau memenangkan suatu prestasi.

Ternyata banyak manfaat yang saya dapatkan sejak bergabung dengan Forum Lingkar Pena. Di Forum Lingkar Pena, wawasan saya bertambah. Saya jadi lebih “melek sastra” walaupun belum dapat mempraktekkan ilmunya secara sempurna. Wildan Nugraha, seorang penulis esai, menjadi pembimbing saya. Memberi tau saya apa itu gaya bahasa. Menyadarkan saya bahwa pemilihan kata dengan akhiran yang sama di karya-karya saya itu namanya aliterasi. Ada juga Topik Mulyana, penulis yang benar-benar sarjana sastra, bahkan calon magister. Beliau tak pelit membagikan ilmunya. Teori-teorinya tentang sastra dan cerita-ceritanya tentang sejarah para penulis sangat membuka wawasan saya terhadap dunia sastra. Dari beliau saya mengetahui bahwa pengulangan kalimat di awal paragraf yang biasa saya mainkan di karya-karya saya itu namanya redundansi. Dari beliau juga saya tau tipikal tulisan-tulisan saya itu tergolong melankolik.

Selain itu, Forum Lingkar Pena juga menjadi ajang silaturahmi bagi saya. Saya banyak mengenal teman-teman baru dari universitas dan profesi yang berbeda. Bahkan dari golongan umur yang berbeda-beda. Baru kali ini saya menjalin pertemanan dengan seorang remaja muda, yang mungkin lebih muda dari adik bungsu saya, dan seorang ibu yang usia anaknya tak berbeda jauh dengan saya. Kadang kami saling berbagi ilmu. Forum Lingkar Pena pun menjadi semacam pelampiasan bagi saya, yang mulai muak dengan padatnya jadwal di P3D (magang-pen.). Setiap kamis sore saya me-refresh isi kepala saya dengan ilmu-ilmu sastra dan jurnalistik. Kalaupun saya tidak tertarik dengan tema pertemuan kali itu (saya kurang tetarik dengan puisi), kadang saya tetap pergi. Bahkan ketika tugas referat atau presentasi menunggu di keesokan harinya pun, saya tetap datang. Hanya sekedar bersilaturahmi dan refreshing.

Inilah sedikit cerita saya dan keanggotaan baru saya di Forum Lingkar Pena. Juga manfaatnya yang banyak sekali saya rasakan sejak saya menjadi salah satu sisi dari lingkaran yang tak terhingga jumlah sisinya itu.

19 Maret 2010,

Thareq Barasabha